Our Rumah Gadang

     Kampung adalah suatu kata dari penamaan daerah yang terdapat beberapa rumah atau keluarga yang bertempat tinggal di sana. Kampung juga sering dijadikan sebuah deskripsi dari sikap-sikap yang berprilaku tidak sesuai dengan orang yang dianggap maju bagi peradabannya, biasanya orang yang di pandang prilakunya tidak seperti orang yang maju, sering diserang dengan kata kampungan. hal ini terjadi dimana paradikma bahwa orang kampung adalah orang yang memiliki akses yang minim, pengetahuan yang rendah, juga cukup lambat dalam menerima kemajuan zaman.

     Kampung tentu akan memiliki makna yang berbeda bila yang menyebutkannya dari daerah suku yang berbeda, akan terjadi perubahan makna dan perubahan kata karena di pengaruhi oleh budaya, bahasa, contohnya saja di sumatera barat lebih indah jika saya sebut Minang. Di Minang Kampung disebut dengan Kampuang dimana bagi orang minang yang memiliki budaya yang khas, kampuang adalah suatu daerah dimana dahulu keluarga, orang tua, dan dia berasal. Namun bila dilihat dari sudut pandang yang Universal umumnya masyarakat menyebutnya kampung halaman, namun kampung halaman lebih kecil maknanya, kampung halaman dideskripsikan sebagai tempat kelahiran seseorang, bingungnya saya sebagai orang minang yang lahir dari keluarga perantauan saat berinteraksi dengan orang-orang yang berada dilingkungan tempat lahir, yang tau saya adalah orang minang akan menanyakan dimana kampung saya di Sumatera Barat. dan jawaban dari pertanyaan tersebut dipengaruhi oleh kedua orang tua, yang dalam bercerita terkait kampung selalu mengatakan kalau kampung saya itu di Nagari Malalo. perspektif yang berbeda jika saya berada di perantauan lain, orang-orang lebih menganggap kampung saya di Gunungsitoli, disebabkan saya telah lahir dan berdomisili di Gunungsitoli, tidak ada masalah dengan kedua hal tersebut hanya saja, jika dalam proses perkenalan, saya harus lebih panjang menjelaskan kepada orang-orang, agar orang-orang mengetahui bahwa saya adalah orang yang nomaden periodik.

     Sejatinya Indonesia ini adalah kumpulan dari berbagai macam bangsa-bangsa namun karena setalah menyatu menjadi Indonesia maka sering kita dengar terdiri dari suku-suku, saya berpendapat seperti itu karena suku-suku tersebut begitu besar dan berkarakter, knapa tidak masing-masing suku memiliki kecerdasan, dan cara bertahan hidup yang berbeda, budayanya juga lengkap, masing-masing memiliki karakter rumah yang berbeda, cara berpakaian, jenis pakaian, cara bersosial, jenis tarian, bahasa, prinsip, dan cara pandangan hidup. Terlalu besar suku-suku tersebut untuk disebut suku.

     Diantara suku-suku tersebut Indonesia punya kami, kami orang minang yang sudah banyak berkontribusi pada Negara Repoblik Indonesia, baik dalam usaha memerdekakan baikpun mengisi kemerdekaan. menulis ini bukan untuk menghitung jasa-jasa kami, hanya ingin memberi tahu apa penyebab banyak dari kami dapan menjadi orang-orang yang tampa pamrih untuk berkontribusi. semua berawal dari Rumah Gadang dan budaya yang digunakan dirumah tersebut serta alamnya. yang perlu diingat rumah gadang tidak bisa diartikan kebahasa manapun karna artinya luas, tidak bisa diartikan rumah besar, atau rumah gede.

     Rumah Gadang adalah rumah keluarga besar, didalamnya dapat terdiri dari beberapa keluarga, karena rumah gadang adalah milik anak perempuan yang prinsipnya berasal dari Matrilinear, Matriakat. Rumah gadang juga difungsikan sebagai tempat aktivitas acara adat dilangsungkan umumnya digunakan bagi mereka nan saparuik, maksudnya yang satu hubungan keluarga yang berhubungan keturunan ibu. Selain itu dari fungsi Rumah Gadang juga memiliki filosofi yang sangat dalam dan luas, baik dari disain arsitektur dan juga proses pembuatannya. 

     Para nenek moyang kami berpikiran futuristik atau jauh maju melampaui zamannya dalam membangun rumah. Konstruksi rumah gadang telah dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi. Rumah gadang membuktikan ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala richter. Bentuk rumah gadang membuat Rumah Gadang tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Getaran yang datang dari tanah terhadap bangunan terdistribusi ke semua bangunan. Rumah gadang yang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur. Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi. Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut. Dari sisi ilmu konstruksi bangunan rumah gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.


     Banyak lagi rahasia filosofi yang terdapat di rumah gadang, baik dari setiap inci bangunannya maupun tatacara membangunnya. Rumah gadang telah menjadi harta yang berharga dimiliki orang minang, namun kini harta itu sudah tidak lagi terlalu bernilai yang disebabkan oleh tertinggalnya rumah gadang tampa berpenghuni.

    Sering saya memikirkan rumah gadang kami nan saparuik. Ada waktu saya menanyakan kepada nenek dimana rumah gadang kami yang cucu nenek ini...
    Nenek yang sangat mengerti dengan adat, sebagai orang yang tinggi derajatnya di mata adat sebagai Bundo Kanduang sangat senang mendengarkan ocehan pertanyaan cucunya, ada di Duo Koto  surau awak ado juo, tapi indak ado lai nan tingga jawab nenek...
     Jawaban itu mengandung tanda tanya... membuat saya langsung menegejar atas jawaban itu, kenapa gak ada lagi yang tinggal...?
    Indak ado lai nan di kampuang, nenek-nenek ang nan lain lah dirantau, nenek ang surang ko pai kasinan kamari tampek anaknyo, kalau nenek dikampuang indak lo takao tingga di rumah gadang lai do, jauah bana nio pai-pai beko.
berarti nek rumah gadang kita kosong aja sekarang ditinggal gtu aja ya... Tapi kenapa gak disuruh aja orang tinggal biar diurusin rumahnya...
    Dulu ado nan tingga di sinan sanak awak juo, kan ado tigo keluarga nan tingga di rumah gadang awak setelah dibongka rumah gadang sambilan ruang, dibagi jadi tigo rumah gadang amaknyo nenek jo tigo adiaknyo tingga sarumah gadang...
    Tapi kini masing-masing lah buek rumah lo surang surang, nenek lah ado lo rumah dibarua (tepi jalan) desa Malalo ko...
Jadi bagai mana rumah itu sekarang...?
     Nenek menjawab dengan wajah yang prihatin, tingga sajo lah lai lah banyak nan lapuak kini, lantainyo sajo lah banyak nan lapuak, indak bisa ditingga di rumah itu lai.
     Saya pun seketika terlempar kedalam imajinasi seakan berada di depan tangga rumah gadang mencoba hati-hati untuk naik dan masuk kerumah itu, baru melangkah dari bibir pintu dua langkah masuk dalam ruangan saya terperosok kebawah rumah gadang yang biasanya di jadikan kandang serba guna ataupun gudang, badan bertaburan debu, beberap bagian tangan tergores lecet, seketika saya berlari keluar lantaran sesak dan sedikit merinding dan mencoba memandangi dari jauh rumah yang ditinggalkan oleh para penghuninya, samar rupa dalam imajinasi karna yakin atas keahlian bentuknya yang belum pernah pandangi langsung asli bentuk rumah gadang kami.

Antaro Marapi jo Singgalang By Teddy Winanda
    Tidak banyak kesempatan untuk mengenal banyak tentang adat di ranah nagari nan elok ini wlaupun kedepan akan sekolah ditempat yang tidak jauh dari nagari nan elok ini. setidaknya kini akan semakin sering pulang ka kampuang dari sebelumnya. Berharap dapat berkunjung melihat Rumah Gadang Kami.

Previous : Come or Return, to where the hard left

Next : Our Surau

Leader Of True Social

     Tahun 2014 ini adalah tahun dimana Negeri ku ini dihebohkan dengan hal-hal yang menyangkut masa depan bangsa ini, yang masa depannya di tentukan oleh orang yang memimpin negeri ini.
Dalam konteks tersebut disetiap kalangan yang mencurahkan ata memeberi ruang fikirnya untuk mengkaji hal tersebut pada tahun ini memunculkan pertanyaan yang mendasar, "Siapa sih yang cocok atau yang bagus jadi President Negara Indonesia ini..?" atau Siapa sih yang bagus memimpin negeri ini..? dengan aksen kalangan muda Indonesia.

     Indonesia sudah cukup tua ketika menggunakan sudut pandang usia, jika di posisikan sebagai manusia dan sudah cukup dewasa jika dilihat dari pengalaman yang telah dilaluinya. lanjutnya usia Indonesia sebagai sebuah negara tidak juga sebanding jika diperbandingkan dengan negara-negara maju, sebab negara maju hampir keseluruhan sudah berusia ratusan tahun dan memiliki waktu yang panjang dalam proses membangunan peradaban. hal ini yang harus kita renungkan agar kita tetap bersabar menanti, di mana nantinya Bangsa Indonesia ini dapat berada pada posisi struktural sosial yang memiliki kesetaraan kemakmuran.

     Dalam berlangsungnya kenegaraan Indonesia yang terpimpin ini, telah melalui dan merasakan bermacam warna dan karakter kepemimpinan. warna yang telah dirasakan itu anatara lain ada merah, kuning, hijau, dan juga biru. Setiap warna masing-masing meiliki karakter yang berbeda-beda, dan juga semuanya dapat kita jadikan panutan dengan mengkesampingkan hal-hal yang tidak patut untuk di contoh.


     Setiap masing-masing kepemimpinan mereka yang begitu berarti bagi bangsa ini mengisahkan berbagai macam polemik bangsa yang memiliki trend yang menjadi fase pendewasaan. Pendewasaan ini lah yang menjadikan kita harus terus peduli terhadap Negara serta bangsa ini.

     Refleksi tersebut mengantarkan saya untuk kembali menulis di Blog ini. untuk kali ini saya ingin memaparkan tentang Pemimpin dan Kepemimpinan yang substansi.

     Mengenai Pemimpin dan kepemimpinan sangat banyak ahli yang memiliki pendapat untuk hali ini dan masing-masing memiliki pengertian yang berbeda walaupun dalam prinsipnya pendapat tersebut tidak jauh berbeda.

     Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu: pemimpin sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai objek.


     Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi.


     Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.

     Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Namun ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:


Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).

Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).

Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).

Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).


     Beberapa pendapat ahli yang dituliskan di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya pendapat. Perbedaannya hanya terletak dari kata-kata, namun subtansi yang dikemukana para ahli tersebut tidak memiliki perbedaan.

    Dari hal yang di kemukan para ahli tersebut dapat saya deskripsikan praktek kepemimpinan tersebut sebagai berikut :

    Seorang individu yang memiliki keinginan sebagai tujuan, baik keinginan diri sendiri yang ingin dicapainya maupun keinginan yang ingin dicapai orang banyak, diupayakan dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dengan seni mengatur, mempengaruhi, mengajak, kemudian dengan terpengaruhnya atau adanya orang-orang yang mengikuti ajakan dan arahan tersebut maka jadilah mereka sebagai orang yang di pimpin atau pengikut. Kemudian para orang-orang yang dipimpin atau pengikut tersebut akan berusaha melakukan aktivitas yang berupaya untuk mencapai keinginan pemimpin ataupun keinginan yang sudah menjadi keinginan bersama.

     Dari deskripsi praktek yang saya paparkan tersebut ada beberapa unsur yang mendukung kepemimpinan tersebut antara lain adanya tujuan, kemudian, adanya pengikut atau yang dipimpin, selanjutnya ada cara untuk memimpin yaitu mempengaruhi.

     Didorong dari hal tersebut, apakah bisa dikatakan seseorang dikatakan pemimpin jika tidak ada pengikut atau yang di pimpinnya? kemudian apakah dapat seseorang dikatakan pemimpin jika tidak memiliki tujuan yang ingin dicapai? selanjutnya juga apakah seseorang dikatakan pemimpin jika tidak mampu mempengaruhi yang dipimpinnya? silakan para pembaca menjawabnya sendiri.

     Cara memimpin berada pada ruang lingkup seni, yang hal ini tidak memiliki rumus ataupun teori yang mutlak sebagai syarat wajib dalam memimpin, dari seni tersebut memunculkan beberapa tipe kepemimpina yang sering ditemui antara lain : 
  1. Tipe kharismatik
  2. Tipe paternalistic
  3. Tipe militeristis
  4. Tipe otokratis
  5. Tipe Lousser Faire
  6. Tipe Populistis
  7. Tipe Administratif
  8. Tipe Demokratis
     Beberapa tipe diatas dalam prakteknya banyak berpendapat ada yang buruk ada yang baik, hal ini sangat relatif jika dikaji lebih dalam, tipe tersebut sangat dipengaruhi oleh dua sisi baik dari sisi kenyamanan pemimpinnya juga berdasarkan kondisi yang dipimpinnya semuanya dipengaruhi oleh kondisi, dan berpeluang dalam pemilihan tipe yang sesuai, tidak tertutup kemungkinan bagi pemimpin yang lihai berseni dapat melakukan komperasi yang membuat kepemimpinan tersebut efektif.

     Dewasa ini banyak perubahan cara penyampain testimoni, sekarang sering kita lihat testimoni atau quote disampaikan melalui gambar-gambar, yang berkaitan dengan tulisan tentang kepemimpinan ini dapat dilihat memlalui gambar dibawah ini.

    Quote dari deskripsi gambar di atas menyampaikan perbedaan atara seorang Boss dan seoarang Leader, apa perbedaannya? kita dapat simak lewat gambar, yang memposisikan anatara keduanya, seorang Boss cendrung memerintah, seorang leader lebih mempengaruhi dan mencontohkan dengan bertindak bersama.

     Pada gambar lain juga di sampaikan beberapa perbedaan antara keduanya sebagai berikut.


Silakan para membaca memaknai sendiri arti dan perbedaannya.

     Ada pun perbedaan di antara keduanya tidak dapat saya katakan salah sebab pada prakteknya hal ini memang sangat sering terjadi, dan dapat kita lihat dengan mata telanjang tampa perlu di telaah-telaah lagi. Namun bagi saya sendiri memiliki perbedaan yang lebih substansi antara Boss dan leader tersebut, yang mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya. Hal mendasar yang membedakan antara keduanya adalah dilahat dari landasan gerak para pengikutnya. Seorang Boss cendrung ditemukan pada dunia kerja, yang para pengikutnya mau tidak mau harus berusaha untuk mencapai tujuan, tapi tidak mengagap tujuan tersebut menjadi tujuan mereka. Sedangkan Leader kita dapa temukan mulai dari dunia kerja, organisasi, maupun pada social masyarakat, sampai pada ruang lingkup terkecil seperti kelompok pertemanan, yang pengkutnya atau yang di pimpinnya bergerak dikarnakan keinginan untuk mencapai tujuan yang sudah menjadi tujuan bersama.

    Setelah panjang lebar mengenai hal ini saya sampaikan untuk memaparkan pandangan secara umum masyarakat luas yang terlalu memiliki sudut pandang yang jauh, sehingga melupakan substansi pemimpin itu sendiri. Sehingga dalam Masyarakat sering menanti, ataupun berharap akan ada orang-orang yang mampu memimpin dengan baik, seperti yang saya paparkan di awal tadi mengenai siapa yang baik untuk memimpin Indonesia, sementara lupa terhadap seharusnya setiap orang harus jadi pemimpin dalam sosial bermasyarakat.

    Syarat yang paling utama untuk menjadi pemimpin adalah memiliki tujuan yang baik, yang punya landasan-landasan yang menegaskan tujuan tersebut baik untuk dicapai. Maka haruslah setiap diri kita memiliki tujuan yang baik. 

     Hal ini saya sampaikan untuk menjadikan diri sebagai pemimpin yang nyata dalam sosial bermasyarakat, yang nantinya akan memberikan manfaat-manfaat kepada masyarakat banyak. Karna sekarang terlalu banyak orang-orang yang bernafsu menjadi pemimpin yang dicapai melalui merebut posisi strategis atau melalui jabatan. Tapi orang-orang ini belum pernah sedikitpun menjadi pemimpin yang menberi maanfaat dilingkungan masyarakatnya. 

     Seharusnya kita sebagai makhluk yang memiliki kompetensi bersosial masyarakat dengan segala kelebihan yang dapat dilakukan mampu mempengaruhi keluarga, tetangga, teman dan orang-orang di sekitar kita untuk dapat berjalan dan melakukan aktivitas-aktivitas positif, memberikan efek-efek yang menular sehingga manfaat-manfaat dari tercapainya tujuan tersebut dapat membentuk tatanan sosial yang lebih baik, tanpa syarat memulai dengan harus adanya jabatan atau di posisikan sebagai orang yang memiliki wewenang untuk memerintah.

     Pada akhirnya tidak ada lagi orang-orang yang di sekitar kita melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaan yang merusak diri mereka masing-masing dan lingkungannya, apa bila hal ini dapat dipraktekkan dan muncul di setiap kalangan atau kelompok masyarakat, hal apa lagi yang kita ragukan untuk kita wujudkan bersama.



Come or Return, to where the hard left

Matahari sudah tidak menampakkan sedikitpun cahanya lagi, hanya serapan dari bulan lah cahaya itu muncul menemani perjalanan ku pada malam itu, driver yang sudah hampir paham seluk beluk jalanan lantaran sering dia lalui, membawa mobil yang ku tumpangi melesat menuju sumatera barat, yang melintasi beberapa kota, seperti sidempuan dan perbatasan Sumatera Utara. Ada beberapa perbedaan yang sangat signifikan yang dapat kita perhatikan dengan mata kita sendiri, terlebih kita rasakan saat berkendaraan, saat tiba di perbatasan anatara Sumatera Utara dengan Sumatera Barat perbedaan itu memberi kenyamanan pagi sipengguna jalan, lantaran ketika memasuki jalan lintas Sumatera Barat tersebut jalan tersebut mulus, saat engkau berada dalam mobil, akan banyak getara yang hilang yang engkau rasakan.


Walaupun sudah memasuki jalanan yang mulus ada gangguan-gangguan yang tidak dapat ku kendalikan, yang tidak mampu membuatku terlelap, sering tersentak di tengah-tengah malam laju mobil dari Kota Sibolga. Perasaan dan hati yang tidak kunjung tenang, kegelisahan mengalir terus menerus. Kebimbangan menyerangku, tidak terlalu kupahami dengan jelas alasan kebimbangan tersebut muncul, tidak pulah sepenuhnya berani ku simpulkan kebimbangan tersebut berada pada keraguan untuk belajar di Sumatera Barat meninggalkan orang-orang yang berpengaruh dalam hidupku.

Aku berusaha menghilangkan keraguan dalam diri ku, dengan memperhatikan perjalanan dalam gelap yang hanya di terangi oleh bulan dan lampu mobil, perlahan mata yang selalu siaga tersebut lelah juga oleh cahaya-cahaya yang bermunculan dan mendadak berhilangan hingga tidurku menghantarkan aku saat bumi ini mulai diterangi oleh sumber energinya sendiri dari maha kuasa.
pagi itu itu senyumku menyambut tatapan ku yang tertuju pada persimpangan yang menipu, persimpangan tersebut adalah persimpangan yang selalu ku ingat dan di beritau selalu oleh orangtua ku, dimana akal-akalan terbangun untuk menandakan akan tiba di kampung halaman.

Simpang Payo nama simpangnya, untuk menuju Nagari Malalo tersebut, Sopir travel harus memutar stirnya sampai habis untuk dapat berbelok di turunan menuju Nagari Malalo.

Untuk sampai ke kampung halaman ku, dari simpang, terlebih dahulu melewati beberapa desa yaitu Sumpu, Rumbai, Padang Lawas, Tangah XX, Tanjung Sawah dan Pasar Malalo tidak jauh dari pasar malalo aku sudah dapat melihat rumah ibu ku, yang di hadiahkan dari seorang pengusaha kaya yang sukses di rantau kota Bengkulu. rumah tersebut rumah moderen clasic, yang bangunannya semi permanen, yang memiliki halaman yang tidak begitu luas cukup untuk bermain ditumbuhi rumput jepang orang sering menyebutnya. Mungkin banyak dalam benak orang di pedesaan sumatera barat pada umumnya rumah masyarakat berbentuk bagonjong Rumah Gadang.

Bagi orang Minang Rumah Gadang tetaplah Rumah gadang, Rumah yang di Sakralkan, tapi Rumah Gadang Kami jauh di bukit sana di atas pasar Malalo, Nagari Duo Koto namanya. Tapi rumah gadang kami sudah lama di tinggal, karna sudah sedikit sanak saudara yang tinggal di kampung, rumah yang di tepi jalan Malalo saja sering di tinggal begitu saja.

Untuk tinggal di rumah bersejarah ini tidak saat ini saja pernah aku jalani, namun sewaktu aku belum banyak mengerti tentang semua hal saja aku sudah pernah di tinggal seorang diri bersama nenek dalam waktu cukup lama. Setiap berada di kampung halaman ini ada banyak moment-moment yang sangat ku rindukan yang ingin ku ulang setiap berada di Nagari nan elok ini, mulai dari makan siang di pondok-pondok pesawahan sambil menikmati angin yang tidak hentinya putus-putus berhembus, selain makan siang di pesawahan, juga ada moment yang tidak kala nikmatnya, makan di bawah pohon Katapiang, sambil mencelupkan kaki kedalam danau Singkarak yang tidak pernah tenang itu, ada yang sangat langka ku temukan di kampung halaman ku ini, dan hanya ku lihat di kampung ini pula seumur hidupku bahkan sampai saat tulisan ini ku tulis, saat aku berdiri di depan rumah dan memandang ke arah danau, ada Pohon yang sangat besar ukurannya dan lebat daunnya yang sangat tua umurnya, itulah dia Pohon Katapiang yang buahnya juga dapat dimakan. Belakangan baru aku sadari bahwa ketika candu-candunya aku dengan kegiatan yang tidak terlupakan itu, aku meyakini bahwa inilah Surga Dunia yang sesungguhnya, yang tidak lepas dari angin, tidak pula kering dari air.


Namun ada satu hal yang membuat aku slalu meragu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai letak kampung halamanku, pada suatu sisi aku meyakini bahwa Nagari Malalo nan Elok ini adalah Kampung Halaman ku, di sisi lainnya pula aku harus akui bahwa aku bukan di lahirkan dan berdomisili di Nagari ini. Sungguh anak Rantau yang malang.

Next    : Our Rumah Gadang



Motivation from Spritual

     Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing. (HR. Muslim)


     Lihatlah cerita orang-orang yang telah mengubah dunia, semuanya diawali dengan penolakan yang dahsyat saat ide itu pertama kali dikemukakan, ketika ikhtiar perubahan itu mulai di jalankan. Mereka dituduh gila, ditertawakan, dianggap merongrong status quo, diasingkan dalam pergaulan sehari-hari dan hal-hal menyakitkan lainnya.

     Lihatlah Nabi Nuh AS yang menyampaikan perintah Allah membangun bahtera atau kapal di tengah bukit padang pasir, Ibrahim menyembelih anaknya, dan saat Rasulullah Muhammad menyampaikan dakwahnya kepada kaum Thaif. Dan dia yang dilempari batu hingga berdarah-darah.

     Begitu juga dengan, Bill Gates, Steve Job, Colombus dan lainnya. Merka mampu mengubah dunia mengawalinya dari sesuatu yang asing, yang belum perna ada sebelumnnay. Inspirasi itu berkobar-kobar saat pertama kali menyetrum kesadaran kita. Tapi biasanya umur inspirasi itu tak panjang.

     Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri, sementara jiwa gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan yang kosong tanpa daya.

     Maka, jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangan sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah dari awal atau pertengahan perjalanan karena tidak sanggup menangguang  resiko untuk berbeda, untuk  disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik, dan difitnah. Mayorotas kita tidak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamanan, ketenangan, serta ketentraman.

     Secara tak sadar, kita bahakan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis dan tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya. Bahkan , pun saat engkau telah berniat mengubah dunnia, lalu menghidupka siang malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

     Alam ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tidak bersungguh-sungguh besrsedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk terwujudnya  ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.

     Kecuali engkau termasuk orang-orang jenius, yang hal tersebut bukanlah merupakan keturunan.

  Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan  kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas.

     Oaring-orang besar yang mengubah dunia, seringkali melakukan tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti katahatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan denga  suka cita.

     Lalu duniapun berubah karena hal –hal yang sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebutulan-kebetulan dan dukungan–dukungan yang mengalir deras dari arah yang tidak pernah mereka perkirakan.

     Beberpa puluh tahun yang lalu saat fajar industri  komputer menjelang, Apple computer dan Microsoft-pun melewati faseyang sama. Juga starbuck, Google, Facebook, serta Twitter.

     Sungguh penting untuk berfikir besar, seperti kata Steve Job, “To put a ding in the Universe.” Tapi, apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

From Book : SPRITUAL CREATIVEPRENEUR
                      By : M Arief Budiaman

Advantages and Weaknesses in the Media Intellectual Childbirth

     Arti penting dan pengaruh internet hanya dapat dinilai dalam konteks riwayat intelektual yang lebih utuh. Seiring dengan sifat revolusionernya, sebaiknya internet dipahami sebagai yang terkini dalam rangkaian panjang peralatan yang membantu membentuk pikiran manausia.


     Pertanyaan penting yang muncul adalah, apa yang bisa di samapaikan sains kepada kita mengenai dampak nyata penggunaan internet terhadap cara kerja otak kita? Pertanyaan ini menjadi subjek banyak penelitian pada tahun-tahun mendatang. Puluhan penelitian yang dilakukan oleh para  pisikolog, pakar neurobiologi, pendidikan dan desainer web mengarah pada kesimpulan yang sama : ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkunga yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial. Berpikir secara mendalam ketika berselancar di internet, sama halnya dengan kita brpikir dangkal ketika membaca buku, namun itu bukan jenis pemikiran yang didorong dan diharapkan oleh teknologi.

    Ketika internet diketahui mampu berdampak pada kelunturan otak, mungkin saja akan muncul pemikiran untuk menciptakan sarana yang akan menyambung kembali sirkuit-sirkuit mental secepat dan secermat mungkin, mungki akan menghasilkan sesuatu yg akan bekerja mirip dengan internet. Internet bukan saja di gunakan secara berkala, tapi juga digunaklan secara obsesif.

    Perlu disadari bahawa internet memberikan rangsangan secara indrawi dan kognitif, itulah rangsangan repetitif, intensif, interaktif, adiktif yang memberi dampak yang cepat dan kuat pada fungsi otak. Internet juga merupakan teknologi pengubah pikiran paling ampuh yang di gunakan secara umum setelah keberadaan buku.

    Aktifitas yang kita lakukan selama menggunakan internet, dan juga mengulangi aktifitas tersebut berulang kali dengan kecepatan yang tinggi, termasuk menggeser mouse, cursor, menekan tombol, bahkan mendengar suara-suara yg keluar dari proses-proses yang dilakukan dan lainnya, melibatkan seluruh indra untuk berperan, kecuali indra pembau dan perasa.

     Sifat-sifat interaktif dalam aktifitas berinternet mengubah kita menjadi kelinci percobaan yang terus-menerus menekan tuas untuk mendapatkan butir-butir kecil gizi sosial atau intelektual.
Internet juga mengarahkan perhatian kita dengan kegigihan yang lebih besar, dibandingkan dengan televisi, atau koran pagi. Seperti aktivitas menyimak dengan rutin hal-hal terbaru dari sebuah website atau blog, menunggu dan mengecek email berulang kali,  dan banyak lagi contohnya. Dunia nyata malah tenggelam ketika kita memproses simbol-simbol dan rangsangan yang datang melalui perangkat kita.

     Sifat interaktif  Internet juga memperkuat efek ketakuta akan ketidak eksisan di lingkunga yang ada, dengan sikap mengaktifkan diri, lewat membalas koment, email, melakukan komunikasi .
Kemudian dapat di katakan para pengguna internet melibatakan banyak paradoks, yang menjadi pengaruh jangka panjang di sebabkan oleh kefokusan terhadap internet lewat ajakan perhatian terhadap monitor, gambar dan lainnya, yang ada pada internet, namun pada sisi lain para pengguna merasa terganggu dengan pengiriman pesan dan tumpang tindih dengan amat cepat.

     Internet juga memanjakan kita terhadap haus akan informasi yang berharap dibanjiri dengan banyak informasi. Internet  juga menawarkan selingan yang banyak di dalamnya, yang dalam suatu sisi selingan ini memiliki manfaat yang baik, sebab dalam sebuah pengalaman dalam disaat seseorang fokus dan masuk dalam sebuah masalah malah membuat orang tersebut terpengkap di dalamnya. Akan tetapi dengan kita tidak terfokus dalam hal membiarkan masalah tersebut, maka akan membuatkita dengan baik menghasilkan ide atau penyelesaiyan dengan perspektif baru, dan membangkitkan kreatifitas. Dalam sebuah penelitian oleh Ap Dijksterhuis, seorang Psikolog Belanda, menunjukan bahwa pengalihan perhatian terhadap waktu pemikiran bawah sadar untuk menangani suatu permasalahan, untuk memberi suatu informasi dan proses kognitif bagi keleluasan sadar. Biasanya kita akan mengambil keputusan  yang lebih baik.

     Penelitian lain, menemukan sebuah penjelasan mengenai perbedaan membaca halaman web dan membaca buku. Perbedaannya terletak pada pola aktivitas otak, secara singkat jika membaca buku aktivitas otak lebih dominan menggunakan bagian yang di asosiasikan pada bagian bahasa, memori, dan pemrosesan visual, tapi dalam membaca buku tidak banyak aktivitas di wilayah prafrontal yang di asosiasikan dengan pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah.  Sebaliknya bagi para pengguna internet justru mengfungsikan secara keseluruahan, dan hal tersebut dapat membantu pikiran-pikiran orang tua lebih tajam.bahkan penelusuran yg dilakukan sama halnya melatih otak seperti mengerjakan teka teki silang. Juga selain hali ini, para pengguna internet membuat aktivitas dalam pengambilan keputusan lebih banyak, yang mana seseorang berhenti dalam hitungan detik untuk mempertimbangkan atau memutuskan pengklikkan suatu link atau tidak.

     Internet nenberikan kita akses instan ke perpustakaan informasi yg baru dalam hal ukuran dan ruang lingkupnya, serta membuat kita mudah mencari-cari di perpustakaan itu untuk menemukan, kalaupun tidak sama persis dengan apa yang kita cari, sekurang-kurangnya sesuatu yang cukup memadai untuk kepentingan sesaat kita. Yang berkurang pada dalam internet adalah jenis kebutuhan primer Jhonson : kemampuan untuk menegetahui, secara mendalam, sebuah subjek untuk kita sendiri, untuk membangun dalam pikiran kita sendiri kemampuan koneksi yang kaya dan aneh untuk melahirkan suatu kecerdasan tunggal.

From : The Shallows-Nicholas Carr

Conviction for a Dream

    Cita.cita, lebih lekat pada anak kecil, lebih kurang dimulai pada saat seorang anak berumur empat tahun sudah di perkenalkan dengan cita-cita, seringnya cita-cita diperkenalkan lewat kalimat tanya, kalau sudah besar mau jadi apa? Sangat sedikit yang memahamkan apa itu cita-cita.

    Hampir seluruhnya orangtua senang apa bila mendengar anaknya menyebutkan cita-cita mereka, tapi juga banyak orangtua yang lupa terhadap cita-cita anaknya saat anaknya berada pada fase perkembangan, lupa yang saya maksud adalah lupa untuk memberi stimulus terhadap cita-cita tersebut.

     Disisi lain juga banyak orang tua yang tidak lupa memberi stimulus terhadap hal tersebut, hal ini disebabkan pada saat anaknya kecil ditanyai mengenai cita-cita malah bingung untuk menjawab, bukan karena tidak mengerti mengenai yang dimaksud dengan cita-cita tersebut, namun benar-benar tidak tau, mau jadi apa saat besar nanti. 


     Begitulah aku, yang hingga memilih dan kuliah di jurusan Manajemen di suatu Universitas juga belum mengetahui mau jadi apa nantinya, padahal sku sudah besar. Minat dan bakat ku seluruhnya hampir setengah-setengah, tanpa ada bagian-bagian kongkrit satupun. Pertanyaan yang muncul, bagai mana nasib mereka kedepan yang tidak punya cita-cita?, termasuk nasib ku.

     Waktupun terus berjalan, sedikit demi sedikit terus berlalu, aku pun tidak begitu ingat semenjak kapan kata cita-cita  telah jarang ku dengar dan ku sebutkan, begitu juga dengan kata-kata mimpi yang mulai lebih sering kini ku dengar. Dengan kata-kata mimpi tersebut aku mulai menjadi lebih punya gambaran kedepan, hanya saja ada perbedaan antara cita-cita dan mimpi, yang mana cita-cita lebih mengarah pada suatu profesi.

     Saat SMA aku mulai mengenal yang namanya mimpi, dan juga sering ku dengar kalimat-kalimat teruslah bermimpi. Kalimat-kalimat tersebut bagi ku sebuah kalimat perintah yang selama ini hanya mampu kuwujudkan dalam fikiran ku, terlebih saat mendengar sebuah lagu Ost. dari sebuah film yang sanagat menginspirasi bagi ku, Dari mimpi-mimpi lah aku memulai semuanya. Pada saat aku mulai bermimpi, mimpi-mimpi itu tidak begitu jauh terbayangkan, yang saat itu aku hanya mampu bermimpi beberapa saat kedepan.

     Mimpi-mimpi jangka pendek yang ku miliki pada saat itu juga tidak begitu pasti dapat terwujud, penyebabnya adalah mimpi-mimpi itu ku gantungkan kepada orang banyak, yang menjadikan untuk mewujudkannya membutuhkan dukungan dari orang lain, yang mengakibatkan mimpi-mimpi itu menjadi rencana jangka panjang untuk dapat merealisasikannya, terlepas disisi aku yang tidak berusaha untuk mewujudkannya, namun disaat mimpi itu mulai pudar, saat itu pula mimpi tersebut datang dalam bentuk tawaran, disaat aku sudah tidak punya kepercayaan akan dapat menyatakan mimpi-mimpi tersebut. Dalam hal menghargai mimpi-mimpiku, tawaran tersebut ku terima setengah hati, pada akhirnya dengan keikhlasan, kini akau menikmati mimpi-mimpi tersebut.

     Cerita yang saya sampaikan beberapa paragraf di atas tadi hanya sebagai bentuk contoh pengalaman, selanjutnya saya akan kembali mencoba berteori yang sulit untuk menemukan pada buku-buku yang ada.

     Mimpi adalah sebuah kata kerja yang tidak nyata, ketika bermimpi maka yang bermimpi sedang melakukan pekerjaan mimpi tersebut. Bermimpi dapat dibagi menjadi dua jenis, pertama; Bermimpi dalam kondisi tidak sadar, baik terjadi dalam kondisi tidur, maupun dalam kondisi dibawah pengaruh alkohol. Kedua; Bermimpi dalam kondisi sadar, dimana dalam bermimpi dengan sadar membayangkan secara nalar akan suatu hal di masa depan.

     Sedikit menegaskan walaupun bermimpi dalam kondisi sadar ada hal-hal yang tidak boleh engkau mimpikan misalnya bermimpi ingin menjadi Power Ranger, atau Satria Baja Hitam, kalau hal ini anda bisa dikatakan lagi ngimpi, heheheh...

    Yang akan dibahas selanjutnya adalah jenis bermimpi kedua, Bermimpi dalam kondisi sadar. Point penting dalam Bermimpi jenis ini adalah gratis, ingat bermimpi itu Gratis, jadi bermimpilah sesuka mu, tidaka akan ada orang yang melarang, dan tidak akan dikenakan pajak oleh pemerintah.

    Dalam Bentuk proses bermimpi jenis pertama dengan jenis kedua, dibedakan dalam bentuk tahapan yang terjadi, jenis bermimpi pertama terjadi itu berasal dari alam bawah sadar, yang tak jelas sebab akibat hal itu berasal dan muncul disaat anda tidur dengan lelap. Untuk jenis yang kedua terjadi berasal dari informasi melalui penglihatan dan pendengaran yang di proses dengan nalar melalui fikiran, saat proses itu berlangsung tanpa kita sadari perlahan tapi pasti semuanya akan masuk ke alam bawah sadar kita, maka jadilah dia sebuah mimpi.

    Lalu apa yang terjadi?, mimpi-mimpi anda yang sudah tersimpan dalam alam bawah sadar, akan muncul melalui sikap dan tindakan, yang mengantarkan anda untuk mewujudkanya.

    Jadi mulai hari ini cobalah bermimpi sebaik mungkin, baik untuk sebulan kedepan, setahun akan datang, dan jauh ke masa depan anda.

    Dalam sikap dan tindakan yg muncul, baik sadar atau tidak, juga tidak semudah dan semulus melintasi jalan tol, banyak medan yang harus di tempuh, dan banyak masalah yang harus dipecahkan, ada suatu hal yang mampu mengatasi semua hal-hal yang akan muncul nantinya, semua keinginan yang diwujudkan dalam mimpi-mimpi kita, butuh bahan bakar untuk dapat memacu mimpi tersebut terwujud, yang paling penting adalah sebuah keyakinan, yaitu keyakinan diri untuk mampu mewujudkannya, sebagai penentu, yang akan berubah menjadi semangat perjuangan tak berujung, yang tidak akan berhenti hingga anda mampu mencapainya.

    Begitulah sebuah mimpi yang membutuhkan keyakinan, anda yakin bisa, maka anda akan mampu mewujudkannya.

Yakin Usaha Sampai...!

Islam and Intellectual

     Islam sepanjang sejarah peradabannya telah memberi kontribusi  positif dalam perjalanan ilmu itu sendiri, ada yang patut dicontoh untuk membangkitkan intelektual muslim pada saat ini,  pada saat abad pertengahan sains Islam sangat maju.



     Ada delapan faktor yang membuatnya sangat maju, Yaitu :
•    Pertama, peran kesadaran religius sebagai daya dorong untuk menuntut sains dan teknogi.
•    Kedua, ketaatan pada syari’ah mengilhami studi atas berbagai ilmu.
•    Ketiga, kelahiran dan kebangkitan gerakan penerjemahan besar-besaran yang bertahan selama beberapa abad.
•    Keempat, suburnya filsafat yang ditunjukkan pada pengajaran, kemajuan dan pengembangan ilmu.
•    Kelima, luasnya santunan bagi aktivitas sains dan teknologi oleh para penguasa dan wazir.
•    Keenam, adanya iklim intelektual yang sehat sebagai mana yang diilustrasikan fakta sejarah.
•    Ketujuh, peran penting yang dimainkan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan ilmiah, terutama dengan adanya universitas-universitas.
•    Kedelapan, keseimbangan yang dicapai oleh perspektif-perspektif intelektual islam yang utama.

     Tibalah saatnya untuk mendiskusikan umat islam terhadap ilmu pada masa sekarang ini. Sains menempati posisi paling lemah di dunia islam, dominasi ortodoksi agama dan semangat intoleransi yang menguat di dalam masyarakat islam merupakan faktor utama yang bertanggung jawab atas musnahnya lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya dalam islam.

     Umat Islam saat ini harus menghidupkan etos intelektual untuk menguasai ilmu pengetahuan dan memperjuangkannya. Ada tiga faktor perlunya ilmu pengetahuan bagi umat islam. Pertama, pengetahuan dari suatu ilmu merupakan persyaratan pencapaian tujuan-tujuan islam sebagai mana dipandang oleh syari’ah, maka mencarinya menjadi sebuah kewajiban. Kedua, masyarakat yang dikehendaki oleh Al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan mulia, bukan masyarakat yang takluk dan bergantung pada orang-orang kafir. Ketiga, Al-Qur’an Menyuruh umat islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan, penciptaan alam, keajaiban-keajaiban alam, agar umat islam mampu merekayasa dunia ini sesuai dengan kehendak Allah.

     Dari fakta faktor-faktor di atas HmI seharusnya sudah bisa meberikan stimulus atau rangsangan pada kader-kader HmI, agar mampu dan berani berdiri di garda terdepan dalam mengusung ilmu dan menjadi seorang intelektual muslim.

Thinking Demands in Islam

      Kemampuan tafakkur  menjadi salah satu ciri paling penting, bukan hanya membedakan manusia dengan makhluk lain, tetapi juga  memenuhi syarat untuk melaksanakan peran penting sebagai pembangun peradaban dan pembawa misi. Tafakkur adalah istilah arab untuk berfikir, tafakkur menjembatani persepsi dan konsepsi dari kehidupan dunia ini ke akhirat dari makhluk ke penciptanya, Allah SWT. Tafakkur dapat memotivasi aktivitas eksternal dan internal.(Jamal Badi & Mustapha Tajdin : 2007)

    Berfikir menjadi landasan dan modal utama untuk membangkitkan bibit-bibit intelektual, serta memacu semangat untuk terus mau berlomba menyerap ilmu pengetahuan yang dapat memberikan penyelesaian masalah.


    Berfikir dalam islam adalah salah satu aktivitas yang selalu di tekankan dalam kehidupan, agar mampu menemukan suatu kebenaran. Dalam sebuah pilihan jalan kehidupan untuk setiap umat dan hambanya, ada beberapa bahasa dari Al-Quran yang sering mengacu pada pemahan atas berfikir seperti:
1.    Nazhar (Memperhitungkan, Memikirkan, Memerhatikan)
2.    Tabashshur (Memahami)
3.    Tadabbur (Merenungkan)
4.  Tafaqquh (Memahami sepenuhnya, Sungguh-sungguh mengerti)
5.    Tadzakkur (Mencamkan dalam Fikiran atau Hati)
6.    I’tibar (Belajar memahami atau memetik pelajaran)
7.    Ta’aqqul (Menggunakan pikiran dengan benar)

      Dari kata-kata yang ada di atas, tertuliskan dalam (Q.S.Yunus [10]:101) “Perhatikanlah  yang ada di langit dan di bumi.” (Q.S.Al-Baqarah [2]: 221) “Dan Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mencamkan dalam pikiran.” Ada juga penegasan bahwa di saat berfikirpun harus dengan benar. “lalu apakah mereka tidak pernah melakukan perjalanan di muka bumi agar mereka menemukan kebijaksanaan dan menyebabkan telinga mereka mendengar.” (Q.S.Al-hajj [22]: 46)

     Meredupnya intelektual dari HmI di sadari sejak 50 tahun umur HmI, punahnya tuntutan berfikir dari diri kader HmI berdampak pada hilangnya ketertarikan dengan suasana intelectual exercises dalam forum diskusi.(Drs.H. Agussalim Sitompul : 1997)

      Mengembalikan tuntutan berfikir dalam setiap diri kader akan memberikan stimulus dalam pengaktifkan saraf-saraf yang mampu memulihkan semangat untuk menanggapi problematika dan dinamika yang berlangsung, sehingga dalam menanggapi dan menyikapinya akan menimbulkan sebuah forum diskusi yang menampung berbagai macam pemikiran-pemikiran yang dapat di kristalisasi bersama.

Restore the HMI as Rahim Muslim Intellectual

     Mahasiswa sebagai agen of change lah harapan bangsa, insan terdidik, kritis, dan berwawasan yang relatif lama berproses  dalam dunia pendidikan. Mahasiswa memiliki peran dan posisi strategis dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara yang mampu membuat perubahan dan mengarahkan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

     Pada saat sekarang potensi yang dimiliki mahasiswa tidak lagi dimanfaatkan kepada bangsa ini. ketakutan mengolah pemikiran mejadi sebuah ideologi, menurunnya intelektual, dan tidak menariknya wadah-wadah yang mengeksplor kemampuan dan peran mahasiswa menjadi penyebabnya. Sehingga mahasiswa menjadi followers yang tidak begitu bermanfaat bagi individu mereka apalagi untuk bangsa, negara dan masyarakat, tercermin dalam rutinitas mahasiswa saat ini yang kesehariannya beraktifitas hedonis, seperti mahasiswa yang mengobati kejenuhanya dengan mencari hiburan seperti dugem, dan macam kegiatan lainnya.

     Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi mahasiswa tidak lagi menarik di mata mahasiswa-mahasiswi saat ini. Dapat dilihat dari jumlah perekrutan dari tahun ke tahun. HMI belum menjawab tantangan zaman, saat ini, HMI masih meneruskan perputaran yang dijalankan kader-kader terdahulu melupakan perubahan zaman di mana mahasiswa saat ini lebih berfikir pragmatis jika tidak ada hal yang kongkrit diterimanya maka mereka tidak akan pernah mau mengkutinya. Kader-kader terdahulu sadar akan meningkatkan kualitasnya, sehingga tidak perlu membuat aktivitas yang memberikan stimulus dengan intens
    Seharusnya HmI telah tumbuh dewasa dan matang sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang bertanggung jawab atas terwujud masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Bukan malah kehilangan progresifitas ditengah terjadinya degradasi kaum intelektual muslim yang di butuhkan oleh bangsa ini. HmI yang belum mampu menjawab tantangan zaman, dengan kondisi mahasiswa di zaman ini yang tidak begitu berminat untuk berhimpun di HMI dan mahasiswa yang berfikir terlalu pragmatis, megakibatkan sulitnya HMI untuk melahirkan intelektuat-intelektual muslim, yang mana bagian dari modal mewujudkan insan cita dan juga akan diteruskan menjadi masyarakat cita.
     Minimnya minat kader dalam meningkatkan kualiatas diri akan pengetahuan dan wawasan, mengharuskan HMI mengembalikan wujud keintelektualan diri kadernya, untuk memunculkan semangat kader HMI dalam aktivitas yang meningkatkan  wawasan dan pengetahuan, agar HMI kembali melahirkan intelektual-intelektual muslim.

     Upaya dan usaha dalam mewujudkan kembali khitah HMI, yang sejatinya pernah mampu mewujudkan dirinya sebagai rahim Intelektual, harus melakukan muatan dan komitmen untuk mencapai hal tersebut.


Upaya pengukuhan pribadi insan akademis pada setiap kader HmI, sebagai salah satu usaha yg mendasar yang mana seharusnya dapa menjadikan HMI wadah yang terlihat sebagai tempat mahasiswa dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, dan wawasannya baik untuk kuliah maupun diluar perkuliahan, agar ketertarikan mahasiswa-mahasiswa untuk ikut besama-sama meningkatkan kualitas diri akan menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas Intelektual.

     Selanjutnya perlunya penanaman sebagai mental untuk meningkatkan pengetahuan seluas mungkin, dengan mengasanya dengan terus berfikir. Karena berfikir menjadi salah satu aktivitas yang dimiliki kaum intelektuak, juga sudah di tekankan dalam Islam. Tuntan berfikir menjadi pengamalan bagi kader-kader HMI sebagai mahasiswa Islam.

     Ilmu pengetahuan juga menjadi hal yang paling dibutuhkan. Besarnya ilmu pengetahuan seorang kader memberikan stimulus dalam proses pembentukan intelektualnya, yang mana ilmu pengetahuan bekal untuk mencari kebenaran yang mutlak. Kemudian selain itu pula perlu memberi kesadaran akan wajib hukumnya bagi setiap Muslim untuk menuntut Ilmu.

Dalam memunculkan pemikiran-pemikiran baru, upaya terletak pada kebebasan berfikir, yang memiliki perspektif yang luas. Kebebasanpun harus di dorong oleh keberanian melawan yang salah, dan berani tunduk jika kebenarannya datang.

     Melalui pemikiran-pemikiran kader HMI, kader tersebut mampu membentuk dan menciptakan konsep atau sistem untuk diperjuangkan kader-kader HMI dan mampu membawa Ideologi yang dapat mendatangkan sebuah perubahan untuk kebaikan nantinya. Oleh sebab dalam  Islam, sebuah  keintelektual telah memberi kontibusi yang positif pada perkembangan ilmu, namun keadaan yang semakin mundur pada saat sekarang HmI harus mampu mengembalikan etos intelektual kedalam dirinya, sehingga HMI kembali ke khitahnya sebagai Harapan Masyarakat Indonesia dimana dibuktikan dengan lahirnya Intelektual-intelektual muslim dari HMI.

     Poin Penting dari hal-hal perlu di perhatikan HMI untuk berbuat dan memastikan dapat melakukan hala-hal sebagi berikut :
•    HmI harus kembali menanamkan nilai-nilai agama yang menuntut kader-kadernya meningkatkan akademis, sebagai langkah awal untuk menjadi intelektual.
•    Waktu untuk terus mengeksplor kemampuan meningkatkan intelektual masih banyak dan tidak ada yang tidak mungkin, karna islam sudah pernah membentuknya di masa lalu, kita hanya perlu mengulangnya kembali.
•    Komisariat menjadi tempat berjuang, dalam lingkup perkrutan dan pembinaan, sudah harus memiliki kegiata-kegiata seperti diskusi, bedah buku, serta mewajibkan membaca buku yang akan di tindak lanjuti nantinya dengan intens,  yang meningkatkan perkuliahan, kualiatas wawasan dan ilmu pengetahauan anggota dan kadenya, dan sudah dapat menghasilkan tulisan-tulisan dari segala jenis ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai bentuk nyata, perkembangan dan progres yang dimiliki anggota dan kader HmI.
•    Tingkat cabang seharusnya memperjelas fungsinya sebagai bagian dari pengkaderan, maka dari itu cabang harus mampu mewadahi dan memfasilitasi forum-forum diskusi sistematis yang mengkutsertakan seluruh komisariat sekawasan.
•    Pengurus Besar HmI menurt saya sudah bisa memperjuangkan nilai nilai pemikiran-pimikiran dari intelektual muslim yang lahir dari HmI nantinya.
•    Teruslah berusaha dan berjuang jangan pernah berhenti, jadikan intelektual menjadi karakter HmI kembali, berhentilah di saat dipisahkan dengan dunia.

Himpunan Mahasiswa Islam as a Forum for Fostering

     Banyak hal-hal romantisme yang mampu menghanyutkan kita dalam arus nostalgia, yang membuat kita terbuai tanpa sadar dengan cerita kiprah suksesnya HMI dalam mencapai kejayaannya, namun hari ini pandangan harus berpaling dari pandangan kebelakang, agar pandangan kembali meliahat kedepan, dan sejarah cukup di jadikan motivasi untuk bergerak menjadi generasi yang unggul pada saat ini.



     Himpuan Mahasiswa Islam yang disingkat HMI, berperan sebagai wadah, hadir sebagai instrumen dalam hal menfasilitasi mahasiswa yang memiliki latar belakang manapun mau dari Muhammadiayah, Nahdatul Ulama, Ahmadiyah, Ahlulsunnah Waljam'ah, Baik Sunni mapun Syi'ah, semua boleh berhimpun di HMI, yang penting Islam dan semangat dan mau belajar dan berproses, untuk meng up Grade potensi-potensi dalam dirinya, agar dapat menjadi insan cita.

     Dalam mitologi sastra jawa yang kita kenal dengan Gatot kaca yang tidak jauh beda kemampuan nya dengan tokoh komik Super Man, hal yang meanarik dari Gatot Kaca adalah, ia pada dasarnya tidak memiliki kemampuan lebih, namun berkat kesungguhan dan kemauan untuk menempah diri di Kawah Candradimuka, banyak perubahan yang terjadi pada dirinya dan kemampuan yang luar biasa. Untuk dapat menghasilkan Insan Cita, HMI lahir pada tahun 1947 sudah menjadi Kawah Candradimuka.

     HMI Kawah Candradimuaka Mahasiswa telah banyak mewadahi para mahasiswa untuk berproses menempah diri mereka untuk dapat menjadi apa yang mereka inginkan. Apapun keinginkan mereka yang berhimpun di HMI, tujuannya tetaplah Terbinanya Insan Aakademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam, dan Bertanggung Jawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang diRidhai ALLAH SWT.


     Sebagai  wadah yang memfasilitasi, banyak proses yang sudah menjadi aturan dalam HMI yang harus di Ikuti oleh peserta yang siap untuk dibina Salah satunya mengikuti Masa Perkenalan Calon Anggota, dengan mengikuti MAPERCA mahasiswa tersebut dapat memiliki status menjadi anggota muda HMI, kemudian untuk menyelesaikan tahapan pembinaan kesadaran dan sikapa sebagai anggota HMI maka perlu mengikuti Basic Training, dan akan mengemban status menjadi anggota Biasa, dan banyak lagi proses yang lain untuk dapat mengembangkan diri, layaknya seperti mempelajari persilatan untuk mendapatkan suatu jurus maka harus melalu pembelajaran jurus-jurus sebelum nya terlebih dahulu.

    Di HMI anggotanya diberi penanaman modal yang sangat mendasar untuk dapat proses, Hal tersebut dapat memberi stimulus kepada anggotanya dalam melakukan aktifitas. Hal yang paling mendasar tersebut adalah, Bersyukur dan Ikhlas, bersyukur atas apapun yang di peroleh, untuk ikhlas menerima dan memberi apapun, agar segala sesuatunya tetap diridhai ALLAH SWT.

Restore the Identity of Mahasiswa

     Bukan status sebagai mahasiswa yang di maksud dalam hal ini, dan juga bukan identitas simbolis yang akan di kembalikan dari diri mahasiswa.

      Berawal dari fase klasifikasi dari manusia yang biasa di sebut dengan pemuda, bukan remaja, atau orang dewasa. Adapun penggunaan kata pemuda ini melekat kepada orang yg berumur 18 hingga 38 tahun.

     Ada sesuatu hal yang spesial dengan pemuda, di mana saat masa orde lama, para tokoh pemuda biasanya sering di sapa dengan Bung, seperti sering kita dengar Dwi Tunggal Indonesia yang pertama kali, lebih akrab disapa dengan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sahrir, dan banyak tokoh lainnya, bahkan seorang Natsir pun sempat di sapa Bung Natsir. Sentralnya posisi pemuda sangat strategis sebagai penggerak yang sangat efektif, yang memiliki semangat lebih dalam memperjuangkan sesuatu, seperti yang di sampaikan DR.Yusuf Qadhawi.

     Namu ada satu hal yang harus kita ketahui bersama bahwa, kelas pemuda juga terbagi-bagi kembali, salah satu nya pemuda sebagai mahasiswa. mereka lah yang di negri ini yang nyata elitnya sebagai sebuah generasi, dimana hari ini belum banyak pemuda yang mendapatkan peluang untuk menjadi mahasiswa.

     Seharusnya posisi sentral yang dimiliki mahasiswa, menjadi posisi yang paling strategis dalam mengontrol sosial masyarakat, dan mengontrol perubahan sosial. Pemuda yang mendapat pendidikan tinggi, punya tanggung jawab sosial yang besar.

     Selain memiliki tanggung jawab besar tersebut sebagai identitas mahasiswa yang memiliki karakter khusus sebagai pemuda yang berideologi yang muncul dari memiliki intelektual lebih untuk melahirkan ide-ide yang akan menjadi solusi bersama dari permasalahan bersama.

     Mahasiswa juga secara identitas tercermin dari karakter dan sikap. Salah satunya karakter beridealisme yang kuat mewujudkan sikap yang yang berpendirian teguh terhadapa apa yang dipercayainya, bukan dari pengaruh orang lain, dari hal ini pula munculnya independensi dari mahasisiwa.

     Untuk menjadi mahasiswa yang beridentitas seperti hal-hal yang di paparkan tersebut harus mengikuti atau menjalani proses untuk dapat terlahir menjadi mahasiswa secara utuh.

Pertanyaannya proses seperti apa yang harus di lalui oleh mereka?

     Untuk dalam tulisan ini saya tidak akan menjawab hal  tersebut, biarlah mereka para mahasiswa yang mencari sendiri wadah atau instrument yang sesuai dengan diri dan apa yg di cari.


     Namun dalam hal ini paling penting dipahami adanya pola awal sebagai sesuatu yang mendasar agar dapat mengantar pada proses yang membentuk sebagai mahasiswa.

    Manusia dari kecil cendrung sulit mengontrol unsur dari keinginan dari sisi hawa, seperti keinginan dari kesenangan yang berfikir didasari enak dan tidak enak hal ini adalah suatu kewajaran bila berada pada waktu yang tepat. Namun sangat tidak tepat apa bila hal tersebut masih terdapat pada diri mahasiswa, sebab seharusnya mahasiswa sudah harus berda pada fase estetika, yang mengedepankan sikap dan perbuatan, yang didasari pertimbangan benar salah dan baik buruk dari suatu hal yang akan di lakukannya, apakah hal itu bermanfaat atau tidak, sehingga, sebagai mahasiswa yang berestetika tinggi menghasilkan, aktivitas positif.

Twenty Two Years on Earth

Tak pernah dijanjikan pada ku sesuatu yang menyenangkan, tidak pernah pula hal yang tidak menyenangkan.

Tidak ku sadari keterpaksaan dan juga bukan kemauanku sendiri. tidak pernah sesadarku berjanji, atau terpaksa untuk berjanji. Tidak ada pilihan untuk ku, dan taksadar ku terlahir.

Tidak siap untuk menolak, bukan materil yang menjadi amanah, sebelum aku menjadi aku, tak bernama dan tak berwujud.

Suatu Seni rupa dan berterapan Ciptan Maha Karya, lekat kesempurnaan dengan amanah yang harus diisi dari kekosongan ruang karya yang tiada tara sehingga wujud dari kebebasan bersikap dan bertindak dapat terwujud menjadi representatif perwakilan sang Khalik fil Ardi.

Gelap gulita, hanya harapan yang bercahaya, hanya bisa menunggu, tak tau apa yang terjadi di luar sana. Proses adaptasi dalam lingkungan baru, bersabar menanti kenyataan akan kebebasan.

Hal ini tentang 22 tahun yang lalu, namun bukan untuk 22 tahun yang lalu, hanya saja momentum setelah 22 tahun setelah itu.

Energi tanpa batas disusupkan kedalam bangkai yang belum sedikitpun siap untuk menjadi representatif akan tugasnya mengawal kehidupan bersosial. Walaupun utntuk dapat menjadi bangkai saja butuh perjuangan besar mengalahkan makhluk yang tidak kasat mata untuk membuktikan kelayakan sebagai yang unggul, tetaplah bangkai yang tidak berdaya, seonggok daging yang akan menjadi mhakarya yang tak dapat tersaingi dalam penciptaannya.

Energi yang luar biasa tidak terbatas tersebut harus pula beradaptasi dalam lingkungan yang baru, penyesuaian control akan pengaktifan generator kehidupan yang kelak harus terhubung antara akal dan qalbu.

 Proses perkembangan yang cukup lama juga sanagt sulit untuk dijadikan tolak ukur kesempurnaan, dan juga singkatnya waktu, tidak pula menjadi faktor penentu akan wujud dan mental yang baik, hal ini hanya membutuhkan waktu yang pas, entah karna sebuah dorongan atas perintah yang menciptakannya, atau dasar rasional dan logika yang belum sama sekali di mengerti.

Pada waktu yang tepat, manusia terlahir, terlahir sebagai salah satu makhluk, yang cukup lama pertumbuhannya dibandingkan makhluk lainnya, pada saat ia lahir makhluk ini hanya bisa menangis, kemudian mulai pandai tersenyum dan berlanjut dengan kepandaian-kepandaian yang lainnya.

Namun bukan hal tersebut yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Saat makhluk ini lahir, seketika iya menjerit menangis, entah isyarat apa yang ia samapikan dengan bahasa tubuhnya, entah gamang karena cahaya yang menyilaukan, atau suara-suara yang menyengat pendengarannya, apakah aroma darah yang begitu pekat didunia ini, jangan-jangan karna air yang menyentuh kulitnya karna belum terbiasa......

Entahlah, semuanya telah berlalu, namun belum kuketahui jawabannya. Tapi ada pertanyaan yang muncul belakangan ini, setelah hidup 22 tahun lamanya, aku baru sadar akan hal ini, kenapa aku tidak ingat sama sekali, apa tujuan aku dilahirkan, apa kontrak  amanah yang ku sepakati untuk aku emban, saat aku sebagai jiwa.


Bagai mana aku dapat menjalankan tujuan aku dilahirkan, tujuan aku di utus ke muka bumi ini, semanatara sedikitpun aku tidak ingat. apa memang proses tumbuh, berkembang yang membuat aku sebagai manusia lupa semuanya, atau hilangnya semua akan itu semua yang ku tangisi saat aku di lahirkan.....

Kesalnya pada diri sendiri, kenapa pertanyaan ini baru hari ini terfikir oleh ku, disaat kerinduan untuk kembali ke pangkuannya baru aku renungkan, apakah mungkin kesadaran ini memang sebuah ketentuan akan waktu yang juga dialami setiap orang? bagai mana dengan mereka yang tak sampai masa hidupnya dengan ketentuan waktu yang sudah ditetapkan? 

Jawaban dari pertanyaan ini semua memang tidak dapat ku pertanyakan saat ini, karena hanya Dia yang maha akan mendengar dan melihatlah yang memiliki kapasitas untuk menjawab ini semua, aku hanya mampu mencari lembaran-lembaran kehidupan untuk semakin lebih dekat dengan Dia yang menciptakan ku. 

Beberapa hal yang kusukuri dalam hidupku, aku terlahir dari dua manusia yang membukakan jalan-jalan yang gamang untuk dilalui orang banyak. Kusyukuri akan semua pilihan yang kuambil memberikan pelajaran-pelajaran yang luar biasa. Kusyukuri pula aku berjumpa dengan orang-orang yang tepat untuk ku jumpai. Juga kusyukuri bahwa hari ini aku menemukan tempat serta kelompok yang mampu merasionalkan pada ku kenpa aku harus tetap hidup tanpa harus pesimis sedikitpun.